Welcome To My Blog :)
Tampilkan postingan dengan label Ringkasan Jurnal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ringkasan Jurnal. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Juni 2013

Jurnal 41 PENGELOLAAN HUTAN DESA SEBAGAI SATU ALTERNATIF PENGELOLAAN HUTAN BERBASIS MASYARAKAT TERUTAMA DALAM KAITANYA DENGAN WACANA OTONOMI DAERAH, KHUSUSNYA OTONOMI DESA


Oleh : DIDI HERWANTO

Hutan merupakan sumber daya alam anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa yang tidak terhingga nilainya. Sebagai anugerah tersebut hutan mempunyai nilai filosofi yang sangat dalam bagi kepentingan umat manusia. Dengan segala kekayaan alam yang dikandungnya, hutan memberikan kehidupan bagi makhluk hidup di bumi ini terutama bagi umat manusia. Namun demikian nilai filosofi hutan tersebut terus menerus mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena pengelolaan hutan selama ini kurang memperhatikan arti hakekat yang terkandung pada filosofi hutan sehingga kelestarian lingkungan hidup menjadi terganggu. Desa sejak dahulu tidak sekedar dipahami sebagai pemerintahan desa, tetapi seperti negara juga mencakup wilayah, masyarakat dan juga pengakuan dari luar, dalam hal ini negara. Desa biasanya mempunyai wilayah pangkuan desa yang dikelola baik sebagai sumber pendapatan ekonomi, konservasi maupun ‘kedaulatan’ desa. Wilayah itu bisa berwujud hutan dan atau tanah desa atau sering disebut tanah ulayat atau tanah adat. Tanah desa sendiri sekarang terdiri bermacam-macam seperti tanah bengkok, titi sara, tanah kas desa yang seringkali juga berwujud hutan atau kebun. Kemudian karena kondisi sosial politik negara yang kemudian menetapkan semua wilayah hutan yang secara formal tidak dibebani hak milik menjadi kawasan hutan negara, mengakibatkan wilayah pangkuan desa pun secara otomatis ‘diambil alih’ oleh negara menjadi yang kita kenal sekarang adalah Hutan Negara. Padahal kalau kita baca monografi desa-desa pasti masih terdapat hutan-hutan yang masuk wilayah administrasi desanya. Tetapi realitanya desa dan masyarakatnya hanya menjadi penonton dan kena getah pertama kali jika terjadi masalah pada hutan-hutan tersebut. 

Jurnal 40 MEMANFAATKAN SAMPAH ORGANIK MENJADI HASIL OLAHAN KOMPOS PADA SKALA RUMAH TANGGA


Oleh : Andriyeni
Mahasiswa program studi pascasarjana PSL fakultas pertanian UNIB

Untuk menjaga lingkungan bersih bebas dari sampah salah satu solusinya mengubah kebiasaan membuang sampah untuk mengolah sampah menjadi kompos dimulai dari sampah rumah tangga. Sampah organik ialah sampah yang berasal dari makhluk hidup seperti dedaunan dan sampah dapur yang sifatnya mudah terurai secara alami dengan bantuan mikroorganisme. Proses pengolahan sampah organik menjadi kompos, tahapan pemilahan dan penyeleksian sampah penting dilaksanakan, hindari dari sisa-sisa daging, tulang, duri-duri ikan, produk yang berasal dari susu, sisa-sisa makanan berlemak, dikarenakan kesemuanya itu dapat diperoleh kompos yang kualitas tidak baik karena bisa menimbulkan bau busuk. Beberapa faktor yang mempengaruhi proses pembentukan kompos seperti bahan baku, suhu, nitrogen dan kelembapan bahan sampah organik yang berasal dari sisa sayuran dapur lebih cepat terurai dan tidak berbau. Kandungan C/N bahan dengan C/N tanah harus seimbang. Selain itu kestabilan suhu harus dijaga, suhu ideal ( 40-50 ÂșC). Sementara nitrogen dibutuhkan oleh bakteri pengahancur untuk tumbuh dan berkembang biak. Kelembapan dalam timbunan kompos harus diperhatikan dan dijaga keseimbangannya. Kelembapan yang tinggi menyebabkan volume udara menjadi berkurang. Sampah rumah tangga sangat ideal dijadikan kompos. Untuk mengolah sampah rumah tangga diperlukan alat yang disebut komposter. Kompos rumah tangga bermanfaat sebagai pupuk organic bagi tanaman.

Jurnal 39 DAMPAK PENERAPAN METODE SRI (SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION)

Penulis : Susti Mediana

SRI (System Of Rice Intensification) merupakan salah satu pendekatan dalam praktek budidaya padi yang menekankan pada manajemen pengelolaan tanah, tanaman dan air melalui pemberdayaan kelompok dan kearifan lokal yang berbasis pada kegiatan ramah lingkungan. Hal ini akan sangat mendukung terhadap pemulihan kesehatan tanah dan kesehatan pengguna produknya.  Gagasan SRI pada mulanya dikembangkan di Madagaskar antara tahun 1983-1984.  Pertanian organik pada prinsipnya menitik beratkan prinsip daur ulang hara melalui panen dengan cara mengembalikan sebagian biomasa ke dalam tanah, dan konservasi air, mampu memberikan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode konvensional.  Di Indonesia gagasan SRI  telah di uji coba dan diterapkan di beberapa kabupaten di Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, Sulawesi serta Papua. Penerapan gagasan SRI berdasarkan pada enam komponen penting : (1) Transplantasi bibit muda, (2) Bibit ditanam satu batang, (3) Jarak tanam lebar, (4) Kondisi tanah lembab (irigasi berselang), (5) Hanya menggunakan bahan organic (kompos), dan (6) Melakukan pendangiran/penyiangan.  Hasil penerapan metode SRI menunjukkan bahwa budidaya padi metode SRI telah mampu : (1) meningkatkan hasil dibanding budidaya padi sistem konvensional, (2) Meningkatkan pendapatan, (3) Terjadi efisiensi produksi dan efisiensi usahatani secara finansial, (4) Pangsa harga pasar produk lebih tinggi sebagai beras organik. Dengan meningkatnya harga pupuk dan pestisida kimia serta semakin rusaknya lingkungan sumber daya akibat pemakaian bahan kimia telah mendorong petani dibeberapa tempat mempraktekkan sistem budidaya padi metode SRI.  Peluang pengembangan SRI ke depan juga didukung oleh tuntutan globalisasi dan kebutuhan yang makin meningkat terhadap budidaya padi ekologis ramah lingkungan, kemudian dengan sistem penyuluhan yang mudah dimengerti, juga terkait dengan kondisi peningkatan semua input produksi serta kebutuhan produk organik.

jurnal 38 STRATEGI PENGELOLAN KAWASAN HUTAN TWA BUKIT KABA DALAM MENGATASI DAMPAK NEGATIF PEMBANGUNAN DAERAH

Penulis : Davit Huta Hayan


Taman Wisata Alam Bukit Kaba yang telah dianugerahkan kepada masyarakat Rejang Lebong dan Kepahyang adalah merupakan asset yang memiliki nilai yang tak terhingga baik secara ekologis, ekonomi, maupun nilai edukasi karena itu keutuhan dan kelestarian kawasan hutan konservasi harus benar-benar dijaga
Bahwa lestarinya  keutuhan kawasan konservasi TWA Bukit Kaba dan kawasan Hutang Lindung lainnya merupakan ”benteng terakhir”  yang dapat menjamin terjaganya kabupaten Rejang Lebong dan Kabupaten Kepahiang dengan segala potensi  yang ada didalamnya  dari ancaman bencana alam berupa banjir bandang, erosi, longsor, serta menurunnya kualitas lingkungan hidup
Akan tetapi keberadaan TWA Bukit Kaba yang bernilai tinggi sebagai penyangga kehidupan, sumber plasma nutfah dan wisata alam potensial, kondisi sekarang menghadapi permasalahan dengan tingginya tingkat gangguan dan ancaman terhadap keutuhan kawasan  terutama  dalam bentuk mengerjakan dan atau menggunakan dan atau menduduki  kawasan hutan secara tidak sah,  merambah kawasan hutan, illegal logging, dan  perburuan satwa   yang dilakukan oleh oknum masyarakat  yang  tidak bernurani dan yang menjadi isu aktual sekarang adanya dampak negatif  Pembangunan Daerah terhadap keberadaan dan kelestarian kawasan konservasi terutama kawasan TWA Bukit Kaba.
Atas permasalahan tersebut maka dipandang perlu terselenggaranya pelaksanaan  pengendalian dan pengelolaan kawasan TWA Bukit Kaba yang berupa Pemantapan Status Kawasan Konservasi, Perlindungan dan Pengamanan Hutan Serta Pengelolaan Potensi Kawasan Konservasi, sehingga dengan mengupayakan secara optimal ketiga komponen inilah maka diharapkan kedepan kawasan TWA Bukit Kaba dapat lebih terjaga dan lestari dari segala bentuk ancaman dan gangguan atas keutuhan kawasan konservasi.

Jurnal 37 BIOREMEDIASI SEBAGAI ALTERNATIF PENANGANAN PENCEMARAN AKIBAT TAMBANG BATUBARA

Penulis : Rengga Avrizta Putra

Aktifitas pertambangan dianggap seperti uang logam yang memiliki dua sisi yang saling berlawanan, yaitu sebagai sumber kemakmuran sekaligus perusak lingkungan yang sangat potensial. Sebagai sumber kemakmuran, sektor ini menyokong pendapatan negara selama bertahun-tahun. Sebagai perusak lingkungan, pertambangan terbuka (open pit mining) dapat mengubah secara total baik iklim dan tanah akibat seluruh lapisan tanah di atas deposit bahan tambang disingkirkan. Hilangnya vegetasi secara tidak langsung ikut menghilangkan fungsi hutan sebagai pengatur tata air, pengendalian erosi, banjir, penyerap karbon, pemasok oksigen dan pengatur suhu. Salah satu teknik dalam memperbaiki kualitas lingkungan pada kawasan pertambangan adalah dengan teknik bioremediasi. Bioremediasi merupakan teknik pemanfaatan mikroorganisme untuk mendegradasi, menstabilkan, atau memecah bahan pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun.

Jurnal 36 TINGKAT KESADARAN MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN LINGKUNGAN WILAYAH PESISIR

Penulis : Dilisti

Kesadaran masyarakat  dalam pelestarian lingkungan sangat mutlak dibutuhkan. Terutama di wilayah pesisir yang merupakan wilayah yang sangat komplek, dan juga sebagian besar masih merupakan daerah tertinggal. Kesadaran masyarakat tentang pelestarian lingkungan masih rendah, tercermin dari kegiatan sehari-hari misalnya masih membuang sampah sembarangan, anggapan membakar sampah adalah cara membuang sampah yang paling praktis dan cepat, penebangan dan pengrusakan hutan tanpa penanaman kembali, pembangunan perumahan maupun perkantoran tanpa memperhitungkan resapan air ke dalam tanah, dll. Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan antara lain dapat dilakukan dengan program pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan penyadartahuan dan pendampingan pada masyarakat secara intensif serta melibatkan secara langsung masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan dan pemeliharaan pengelolaan wilayah.

Jurnal 35 PENGELOLAAN SUMBER DAYA HUTAN UNTUK MENGURANGI EMISI GAS CO2 PENYEBAB EFEK RUMAH KACA ( GREEN HOUSE EFFECT )

Oleh : Widodo


Efek rumah kaca ( Green House Effect ),  diartikan  sebagai    naiknya suhu bumi. Naiknya suhu bumi di sebabkan oleh terperangkapnya sinar matahari gelombang panjang ( infra merah )  oleh gas – gas rumah kaca
( GRK) yang berada di lapisan troposfer, yang merupakan lapisan atmosfer yang berada dipermukaan bumi sampai radius 10 Km ke angkasa. Naiknya suhu ini dapat menyebabkan terjadinya pemanasan global. Secara total, 29 % energi matahari akan dipantulkan oleh atmosfer, 20 % di serap oleh gas-gas atmosfer, dan hanya 51 % yang sampai dipermukaan bumi.
GRK yang dapat menyebabkan efek rumah kaca adalah CO2, CH4,CFC, O3 dan N2O. Seberapa bsar kontribusi dari masing-masing GRK tergantug kepada lama waktu tinggal GRK di atmosfer dan besarnya nilai GWP. CO2 menjadi fenomena belakangan ini karena kontribusinya yang sangat besar terhadap efek rumah kaca yaitu 50 % di antara GRK yang lain.
Selain itu CO2 dihasilkan dari kegiatan manusia yang akan menambah emisi CO2 yaitu, Penggunaan Bahan Bakar Minyak ( BBM ) yang tidak efisien dan peniadaan atau pengurangan vegetasi termasuk pembabatan hutan.
Efek rumah kaca dapat berdampak kepada rusaknya ekosistem yang akhirnya akan memutus rantai makanan dan perpngaruh kepada seluruh kehidupan dimuka bumi.
Penghematan penggunaan BBM dan pengelolaan sumber daya hutan merupaan salah satu tindakan prefentif terhadap peningkatan emisi gas CO2 di lapisan troposfer. Semakin banyak luasan vegetasi dan luasan hutan maka akan semakin banyak jumlah CO2 yang bisa diambil oleh permukaan daun untuk proses fotosintesa dan salah satu produk akhirnya  adalah O2 yang dimanfaatkan oleh makluk hidup pada saat respirasi.

Jurnal 34 POLUSI AIR TANAH AKIBAT INDUSTRI DAN LIMBAH RUMAH TANGGA SERTA PEMECAHANNYA

Penulis : Gusten Sari

Pengelolaan lingkungan hidup merupakan kewajiban bersama berbagai pihak baik pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat luas. Hal ini menjadi lebih penting lagi mengingat Indonesia sebagai negara yang perkembangan industrinya cukup tinggi dan saat ini dapat dikategorikan sebagai negara semi industri (semi industrialized country). Sebagaimana lazimnya negara yang masih berstatus semi industri, target yang lebih diutamakan adalah peningkatan pertumbuhan output, sementara perhatian terhadap eksternalitas negatif dari pertumbuhan industri tersebut sangat kurang, sehingga akan menyebabkan dampak kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan diakibatkan oleh berbagai faktor, antara lain oleh pencemaran. Pencemaran ada yang diakibatkan oleh alam, dan ada pula yang diakibatkan oleh perbuatan manusia.  Ada tiga macam  jenis pencemaran yaitu pencemaran air, udara dan tanah, pencemaran udara disebabkan oleh asap buangan seperti CO2, SO, SO2, CFC, CO, dan asap rokok, pencemaran air terjadi pada sumber-sumber air seperti danau, sungai, laut dan air tanah yang disebabkan olek aktivitas manusia. Sedangkan pencemaran tanah dapat terjadi secara langsung, pencemaran tanah melalui air Dan pencemaran tanah melalui udara. Pencemaran dapat ditangani dengan tindakan secara administratif, dengan menggunakan teknologi, dan melalui edukatif/Pendidikan.  Dengan tiga pendekatan diatas diharapkan kerusakan lingkungan akibat pencemaran dapat diminimalisisi.

jurnal 33 PEMANFAATAN PUPUK KOMPOS UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI PENGELOLAAN TANAH PERTANIAN PADA LAHAN KERING

Penulis : Eka Lya Vivianthi


Rasa memiliki dan peduli terhadap Sumberdaya Alam dan Lingkungan sangat diperlukan bagi kita semua.  Hal ini guna menciptakan pembangunan pertanian yang berkelanjutan dan berorientasi pada efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam.  Untuk mencapai hal tersebut, kita perlu memperhatikan aspek – aspek biologis yang dapat mendukung proses pengelolaan lahan agar potensi lahan tersebut menjadi optimal, salah satu caranya yaitu dengan penggunaan pupuk organik ( kompos ) pada lahan kering. Pupuk bermanfaat untuk menambah kandungan unsur – unsur hara di dalam tanah. Dengan adanya keseimbangan unsur hara tersebut, tanaman terutama tanaman yang tumbuh di lahan yang kering dapat menyerap hara tersebut untuk proses metabolisme di dalam tanaman tersebut.
Dengan adanya  proses pemupukan yang dilakukan secara alamiah ini, banyak keuntungan yang kita peroleh. Tingkat residu pada tanaman dapat kita kurangi, kesuburan tanah juga lebih terjaga, dimana daya jerap akar terhadap unsur hara akan lebih tinggi. Hal ini tentunya akan membuat tanaman menjadi lebih subur, memiliki daun yang banyak, dan memiliki buah yang banyak, besar, lebih segar, dan enak.

Jurnal 32 PERAN MIKORIZA DAN FAUNA DALAM REHABILITASI LAHAN TERDEGRADASI (LAHAN PASCA TAMBANG)

Penulis : Devi Susanti

Ulah manusia atau proses kegiatan alam banyak berdampak negative terhadap kapasitas lahan, sehingga lahan tersebut tidak dapat berfungsi secara efektif di dalam suatu ekosistem. Kegiatan pertambangan batubara merupakan suatu kegiatan yang potensial di Indoneisa dan tidak dapat dipisahkan dari sistem ekonomi nasional. Namun kegiatan ini mempunyai dua sisi yang saling berlawanan, sebagai sumber ekonomi dan perusak lingkungan. Upaya perbaikan lahan bekas tambang batubara di Indonesia mungkin telah banyak dilakukan masyarakat dan pemerintah, Namun upaya tersebut belum membuahkan hasil yang optimal. Filosofi dasar yang dianut untuk memperbaiki ekosistem yang terdegradasi adalah kembali ke alam (back to nature) dan ramah terhadap lingkungan. Prinsip kembali kepada alam berupa pemanfaatan kekayaan mikoriza sebagai salah satu mikroorganisme yang bermanfaat serta menggunakannya kembali. Selain itu, juga dapat digunakan jenis-jenis fauna telah diseleksi sebagai pendekomposisi yang ramah lingkungan.

Jurnal 31 TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT (TKKS) SEBAGAI ALTERNATIF PUPUK ORGANIK

Penulis : Dwi Ida Wardani


Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) dapat dimanfaatkan sebagai sumber pupuk organik yang memiliki kandungan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanah dan tanaman. Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) mencapai 23% dari jumlah pemanfaatan limbah kelapa sawit tersebut sebagai alternatif pupuk organik juga akan memberikan manfaat lain dari sisi ekonomi.
Pertumbuhan produksi kelapa sawit semakin meningkat sejalan dengan jumlah limbah yang dihasilkan. Upaya untuk mengatasi hal tersebut, Pusat Penelitian Kelapa sawit (PPKS) melakukan teknologi pengomposan dengan memanfaatkan hasil limbah pabrik menjadi kompos yang memiliki nilai ekologi dan ekonomi yang tinggi. Bahan yang diperlukan untuk produksi kompos tersebut adalah Limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) dan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (LCPKS).
Keunggulan kompos TKKS meliputi: kandungan kalium yang tinggi, tanpa penambahan starter dan bahan kimia, memperkaya unsur hara yang ada di dalam tanah, dan mampu memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi. Selain itu kompos TKKS memiliki beberapa sifat yang menguntungkan antara lain: (1) memperbaiki struktur tanah berlempung menjadi ringan; (2) membantu kelarutan unsur-unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman; (3) bersifat homogen dan mengurangi risiko sebagai pembawa hama tanaman; (4) merupakan pupuk yang tidak mudah tercuci oleh air yang meresap dalam tanah dan (5) dapat diaplikasikan pada sembarang musim.
Proses pengomposan tandan kosong kelapa sawit ini tidak menggunakan bahan cair asam dan bahan kimia lain sehingga tidak terdapat pencemaran atau polusi, selain itu proses pengomposannya pun tidak menghasilkan limbah. Proses membuat kompos dimulai dengan pencacahan tandan kosong sawit terlebih dahulu dengan mesin pencacah kemudian bahan yang telah dicacah ditumpuk memanjang dengan ukuran lebar 2,5 m dan tinggi 1 m. Selama proses pengomposan tumpukan tersebut disiram dengan limbah cair yang berasal dari pabrik kelapa sawit. Tumpukan dibiarkan diatas semen dan dibiarkan di lantai terbuka selama 6 minggu. Kompos dibolak-balik dengan mesin pembalik. Setelah itu kompos siap untuk dimanfaatkan.

Jurnal 30 ASAP CAIR CANGKANG KELAPA SAWIT SEBAGAI PENGAWET ALAMI BAHAN MAKANAN

Penulis : Eka Marsyanti

Kelapa sawit adalah salah satu komoditi andalan Indonesia yang perkembangannya demikian pesat. Selain produksi minyak kelapa sawit yang tinggi, produk samping atau limbah pabrik kelapa sawit juga tinggi. Limbah yang dihasilkan dalam pengolahan buah sawit berupa : tandan buah kosong, serat buah perasan, lumpur sawit (solid decanter), cangkang sawit, dan bungkil sawit. Penerapan konsep zero emissions dengan mengefisienkan penggunaan bahan baku dan memaksimalkan nilai gunanya, secara otomatis, emisi gas, limbah padat dan cair ke lingkungan akan berkurang.Salah satunya apabila dilakukan pirolisis terhadap cangkang sawit tersebut akan diperoleh rendemen berupa asap cair yang mengandung senyawa kelompok fenol, asam dan karbonil memiliki fungsi sebagai penghambat perkembangan bakteri yang cukup aman sebagai pengawet alami.

Sabtu, 25 Mei 2013

Jurnal 29 HUBUNGAN KONDISI FISIK RUMAH DAN LINGKUNGAN SEKITARNYA DENGAN KEJADIAN MALARIA DI DESA JERANGLAH KECAMATAN KAYU KUNYIT KABUPATEN BENGKULU SELATAN


Oleh: E L V I   H A Y A N I

Malaria masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Kejadian malaria disebabkan adanya kontak manusia dengan nyamuk malaria dan didukung oleh kondisi perumahan dan lingkungan yang kurang baik. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan dan risiko kondisi fisik rumah dan lingkungan sekitar rumah dengan kejadian malaria di Desa Jeranglah Kecamatan Kabupaten Bengkulu Selatan.
Penelitian ini dilakukan dalam bentuk survei lapangan yang bersifat observasional dengan pendekatancase control. Variabel-variabel bebas adalah kondisi fisik rumah antara lain : ventilasi, langit-langit, dinding. Kondisi lingkungan sekitar rumah antara lain: semak-semak, parit atau selokan, dan kandang ternak. Dapat disimpulkan bahwa kondisi fisik rumah dan lingkungan sekitar rumah menunjukkan adanya hubungan yang bermakna terhadap kejadian malaria maka disarankan adanya penyuluhan bagi masyarakat serta perbaikan dan kebersihan pada kondisi fisik rumah dan lingkungan sekitar rumah.

Jurnal 28 PERLINDUNGAN TERHADAP LINGKUNGAN LAUT BERHUBUNGAN DENGAN EKOLOGI


Oleh : Andika Rahman

Pentingnya laut bagi system pendukung kehidupan memerlukan pemahaman ekologi yang baik. Lautan memainkan peranan kunci dalam siklus biogeokimia, demikian juga dalam pemeliharaan biosfer.Ancaman terhadap lingkungan laut makin meningkat, karena laut merupakan tempat pembuangan akhir banyak limbah manusia, yang dicapainya melalui berbagai rute transfor. Ciri fungsional ekosistem ialah bahwa makanan dipertimbangkan dalam istilah energi, sumber primernya adalah cahaya matahari dan fotosintesis tumbuhan. Jadi tumbuhan membentuk jenjang trofik pertama dan hewan herbivora kedua, jenjang trofik ketiga dan yang lebih tinggi terdiri atas karnivora.

Jurnal 27 MENURUNNYA KUALITAS AIR AKIBAT KERUSAKAN LINGKUNGAN

Oleh : Susi Efrianti


Di zaman sekarang, air menjadi masalah yang memerlukan perhatian serius. Untuk mendapatkan air yang baik sesuai dengan standar terntentu sudah cukup sulit untuk di dapatkan. Hal ini dikarenakan air sudah banyak tercemar oleh bermacam-macam limbah dari berbagai hasil kegiatan manusia. Sehingga menyebabkan kualitas air menurun, begitupun dengan kuantitasnya.
Makalah ini bertujuan untuk membahas mengenai pencemaran air yang makin marak terjadi. Di dalam makalah ini juga akan dibahas sumber, dampak dan penanggulangan pencemaran air. Diharapkan dengan adanya penjelasan mengenai dampak pencemaran air beserta cara penanggulangannya, maka akan timbul kesadaran pada diri kita semua. Pada akhirnya pencemaran dapat dikurangi dan akan didapat sumber air yang aman untuk kita konsumsi.
Data yang dikumpulkan dalam penulisan karya tulis ini adalah dengan menggunakan data sekunder yaitu data yang diperoleh dari beberapa literature ilmiah. Secara umum, sumber-sumber pencemaran air adalah limbah industri (bahan kimia baik cair ataupun padatan, sisa-sisa bahan bakar, tumpahan minyak dan oli, kebocoran pipa-pipa minyak tanah yang ditimbun dalam tanah), .  pengungangan lahan hijau/hutan akibat perumahan, bangunan, limbah pertanian (pembakaran lahan, pestisida), limbah pengolahan kayu, penggunakan bom oleh nelayan dalam mencari ikan di laut, rumah tangga (limbah cair, seperti sisa mandi, MCK, sampah padatan seperti plastik, gelas, kaleng, batu batere, sampah cair seperti detergen dan sampah organik, seperti sisa-sisa makanan dan sayuran).
Usaha-usaha yang dapat dilakukan  menjaga air agar tetap bersih diantaranya : menempatkan daerah industri atau pabrik jauh dari daerah perumahan atau pemukiman,  pembuangan limbah industri diatur sehingga tidak mencermari lingkungan atau ekosistem,  pengawasan terhadap penggunaan jenis–jenis pestisida dan zat–zat kimia lain yang dapat menimbulkan pencemaran, memperluas gerakan penghijauan, tindakan tegas terhadap perilaku pencemaran lingkungan, memberikan kesadaran terhadap masyaratkat tentang arti lingkungan hidup sehingga manusia lebih lebih mencintai lingkungan hidupnya, melakukan intensifikasi pertanian.

Jurnal 26 HUBUNGAN EKOLOGIS DAN BIOLOGIS YANG TERJADI ANTARA MANGROVE, LAMUN, DAN TERUMBU KARANG

Oleh : Rahardian Harry

Ekosistem mangrove, terumbu karang, dan lamun mempunyai keterkaitan ekologis (hubungan fungsional), baik dalam nutrisi terlarut, sifat fisik air, partikel organik, maupun migrasi satwa, dan dampak kegitan manusia. Oleh karena itu apabila salah satu ekosistem tersebut terganggu, maka ekosistem yang lain juga ikut terganggu. Yang jelas interaksi yang harmonis antara ketiga ekosistem ini harus dipertahankan agar tercipta sebentuk sinergi keseimbangan lingkungan. Ekosistem mangrove merupakan ekosistem yang sangat produktif dengan produktivitas primernya yang sangat tinggi daripada ekosistem lainnya di perairan. Hutan mangrove mempunyai fungsi ekologis yang sangat penting yaitu sebagai salah satu penyerap karbondioksida di udara. Peningkatan kandungan karbondioksida di udara dapat menyebabkan dampak pemanasan global. Jika terjadi pemanasan global oleh penebangan hutan mangrove besar-besaran maka ini akan berpengaruh terhadap ekosistem terumbu karang dan lamun. Misalnya zooxanthela pada terumbu karang akan keluar dari karang akibat meningkatnya suhu perairan. Karang yang membutuhkan zooxanthela dalam memproduksi zat-zat penting bagi pertumbuhannya akan mati sehingga terjadi pemutihan karang.

Jurnal 25 PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR YANG TERPADU DAN BERKELANJUTAN

Oleh : Agus Riyadi

 Indonesia merupakan salah satu negara tropika basah di dunia, krisis air sering melanda kawasan ini. Di beberapa daerah di Indonesia sering ditemukan kelangkaan air bersih, sehingga masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhannya. Dalam hal sumberdaya air, krisis yang dialami Indonesia menyangkut aspek penyediaan dan aspek pengelolaan. Dalam hal penyediaan, masalah yang timbul mencakup aspek kuantitas dan kualitas. Secara spasial, permasalahan air dapat digolongkan pada dua wilayah, yakni perkotaan, dan pedesaan. Di Perkotaan belum semua anggota masyarakat mendapat akses air bersih secara sehat. Di kota-kota besar, banyak masyarakat di wilayah kumuh memanfaatkan bantaran sungai untuk MCK dan air minum.Penyediaan air bersih melalui institusi/perusahaan yang terkait, misalnya PDAM, masih belum mecukupi. Sebagai gambaran, PDAM DKI Jaya pernah menyatakan 62% warga telah terlayani. Namun data itu diragukan kalangan DPRD. Pelayanan air dari PDAM, misalnya, tidak selalu memenuhi persyaratan, baik dalam hal kuantitas maupun kualitas, yaitu sering tidak memenuhi baku mutu lingkungan untuk air minum. Kualitas air bersih yang diterima warga tidak murni bersih, banyak kotoran, bahkan ada indikasi terkontaminasi pencemaran dari sejumlah limbah pabrik. Masyarakat juga menyesalkan suplai air dari PDAM Jaya yang tidak pernah normal seperti volume air yang sedikit, sering mati, dan debit air yang buruk. Kurangnya penyediaan air minum oleh PDAM berimplikasi pada penggunaan air tanah secara tidak terkendali, baik oleh masyarakat, maupun terutama oleh industri dan hotel-hotel. Akibat selanjutnya, terjadi penurunan tanah karena air tanah tersedot. Penggunaan air tanah telah pula menyebabkan intrusi air laut yang semakin masuk jauh ke arah daratan. Beberapa kota di Indonesia seperti Jakarta, Semarang, dan Denpasar terancam intrusi air laut akibat eskploitasi air bawah tanah yang tidak terkendali.

Jurnal 24 EFEK PEMBUKAAN KEBUN KOPI RAKYAT DI LAHAN BERLERENG DI KECAMATAN NASAL KABUPATEN KAUR PROVINSI BENGKULU TERHADAP BAHAYA DEGRADASI LAHAN

Oleh : Ivan Roy


Kerusakan tanah adalah  proses atau fenomena penurunan kapasitas tanah dalam mendukung kehidupan dengan hilangnya  atau menurunnya fungsi tanah, baik fungsinya sebagai sumber unsur hara tumbuhan maupun maupun fungsinya sebagai matrik tempat akar tumbuhan berjangkar dan tempat air tersimpan. Proses  kerusakan tanah sebagai proses atau fenomena penurunan kemampuan tanah dalam mendukung kehidupan pada saat ini atau pada saat yang akan datang yang disebabkan oleh ulah manusia.
Faktor penyebab degradasi disebabkan oleh 2 faktor utama yakni ulah manusia dan kondisi lingkungan. Kondisi lingkungan ini termasuk tipe kelerengan lahan, semakin tinggi kelerengan lahan maka tingkat degredasi lahan semakin besar. Pembukaan kebun kopi pada lahan berlereng dengan tanpa pengolahan lingkungan yang berkelanjutan seperti kebun tanpa naungan ataupun tanaman pelindung memberi dampak posistif penurunan produktivitas lahan, produktifitas tanaman dan pendapatan petan.
Secara geografis penutupan vegetasi lahan bahwa kecamatan Nasal memiliki 65,03 % areal semak belukar dan perkebunan  lahan terbuka sedangkan  tingkat kemiringan bergelombang berbukit  sampai bergunung mencapai 95,95 % . Dilokasi ini aktifitas masyarakat sangat aktif dengan  budidaya pertanian dengan tanaman keras dimungkinkan bahwa efek degradasi lahan tersebut  sangat besar tejadi.
Ditinjau dari segi lingkungan, perkebunan pola agroforestry/hutan rakyat merupakan salah satu bentuk untuk pengendalian atau rehabilitasi kerusakan lahan dimana keragaman hayati didalam lahan akan bertindak sebagai penghadang fisik antara air hujan dan permukaan tanah, sehingga air hujan yang jatuh menetes secara perlahan, tidak menghempas permukaan tanah sehingga run off dan erosi dapat diperkecil.

Jurnal 23 UPAYA MENGEMBALIKAN EKOSISTEM MANGROVE YANG SUDAH RUSAK KEMBALI SEPERTI ASLI (RESTORASI) AKIBAT AKTIVITAS MANUSIA

Oleh : Andreani Kinata

Hutan mangrove adalah hutan yang berada di pantai, sedangkan ekosistem mangrove adalah suatu sistem di alam tempat berlangsungnya kehidupan yang mencerminkan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya dan diantara makhluk hidup itu sendiri, terdapat pada wilayah pesisir, terpengaruh pasang surut air laut, dan didominasi oleh spesies pohon atau semak yang khas dan mampu tumbuh dalam perairan asin/payau. Ekosistem mangrove memberikan keuntungan di bidang ekologi dan ekonomi, secara fisik pun mangrove sangat berperan sebagai penahan terpaan ombak di pantai. Namun luas hutan mangrove semakin hari semakin berkurang akibat aktivitas manusia, seperti kegiatan penambakan, penebangan pohon mangrove. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk menjelaskan bahwa ekosistem mangrove sangat berperan penting bagi keseimbangan alam. Namun luas ekosistem mangrove semakin hari semakin menurun, untuk itu sangat diperlukan usaha mengembalikan ekosistem mangrove seperti semula. Dalam melakukan restorasi, peran masyarakat merupakan pokok utama dalam keberhasilan restorasi. Selain kegiatan restorasi, lahan basah dinyatakan efektif dalam mengatasi pencemaran logam berat (Pb dan Cu), begitupun dengan spesies Avicennia marina danRhizopora sp. juga memiliki kemampuan serap logam yang tinggi.

Jurnal 22 KAJIAN KARAKTERISTIK DAN DAMPAK LINGKUNGAN KEGIATAN PETANI SEKITAR HUTAN

Oleh : Sasmadi

Pemanfaatan sumberdaya hutan perlu dilakukan dengan memperhatikan prinsip kelestarian. Pemanfaatan hutan dengan mengkonversinya menjadi kebun kopi akan menyebabkan fungsi hutan sebagai pencegah erosi menjadi berkurang. Apalagi jika konversi kawasan hutan ini dilakukan pada daerah hulu DAS, yang merupakan daerah dengan kemiringan lereng lebih dari 15%. DAS Air Bengkulu adalah salah satu DAS yang mengalami  tekanan akibat kepadatan penduduk. DAS Air Bengkulu mulai dibuka pada jaman kolonial Belanda yaitu pada tahun 1936, dan terus berlanjut baik melalui program transmigrasi umum maupun transmigrasi lokal. Akibat kedatangan penduduk secara bergelombang ini, pembukaan kawasan hutan dalam wilayah DAS Air Bengkulu semakin meluas. Etnis utama yang mendiami kawasan DAS Air Bengkulu adalah Rejang, Lembak, dan Jawa, yang ketiganya hidup berdampingan akan tetapi letak rumah masing – masing etnis berkumpul dan berdekatan antara sesama etnis. Proses interaksi antar etnis berlangsung lama dan memerlukan bantuan pihak ketiga untuk mempercepatnya.